Creativitas itu tidak terbatas...untuk menjadi marketer handal..creativitas sangat menentukan...coba Anda bayangkan..bagaimana caranya memperkenalkan Brand kita agar mendapatkan BRAND AWARENESS yang cepat dan singat dengan cost yang semurah-murahnya..?
Sedikit sharing dari pengalaman pribadi saya...pada saat saya memperkenalkan Brand KLENGER BURGER, saya tidak ada dana sepeserpun untuk promosi. Bagaimana caranya supaya Brand saya bisa dikenal orang? Akhirnya pada saat itu saya putuskan untuk membuat BLOG sebagai media komunikasi Brand KLENGER BURGER.
Apakah yang terjadi..? Subhanallah...ternyata effectnya sangat dasyat dan powerfull. Peminat Klenger Burger khususnya yang ingin menjadi franchisee berdatangan dari seluruh pelosok Indonesia..bahkan dunia..walaupun mereka belum pernah mencicipi productnya secara langsung. Begitu pula bagi pelanggan, media ini tentunya cukup menjadi tools untuk men-drive orang mencari outlet Klenger Burger dan membeli productnya.
Berarti ada satu point yang juga harus kita ingat..HOW WE CREATE our BRAND PERSONALITY dalam hal ini. BLOG yang dibuat haruslah bisa mencerminkan BRANDING KLENGER BURGER dan juga PERSONALITY yang tentunya akan menjadi PERCEPTION di dalam CONSUMER's MIND. Apabila CONSUMER'S MIND telah di balut dengan yang namanya COSTUMER'S SATISFACTION, maka sudah terbentuklah yang namanya EMOTIONAL BONDING antara BRAND & CONSUMER dan ini lah yang kita sebut sebagai BRAND LOYALTY CUSTOMER.
Itulah simple dari BRAND PLATFORM KLENGER BURGER. Ada masukan dari para BLOGGER?
Cheers,
VK
Labels: My Own Way
Sebuah survei tentang wanita pebisnis di tahun 2007 ini diselenggarakan oleh RSM McGladrey, sebuah konsultan bisnis di Amerika Serikat. Beberapa isu yang diangkat pada survei tersebut diantaranya profil risiko wanita pengusaha, struktur manajemen wanita pemilik bisnis, serta akses mereka kepada modal utang dan modal saham
Survei yang dilakukan terhadap 650 responden di 35 negara tersebut menunjukkan beberapa hasil yang menggembirakan. Banyak hal menunjukkan kekuatan yang dimiliki wanita untuk mendorong kesuksesan.
Hasil pertama yang didapatkan adalah dalam hal demografi dan pendidikan. Dapatkah perempuan menikah, memiliki anak dan menjadi pengusaha sukses? Demikian pertanyaan pertama yang ingin dilihat dari survei tersebut. Ternyata hasilnya, sekitar 68% wanita pemilik bisnis yang disurvei telah menikah. Dan lebih dari 67% wanita pebisnis yang disurvei telah memiliki anak. Ditemui juga korelasi yang tinggi antara pendidikan dan kewirausahaan, dengan 40% wanita pebisnis yang disurvei telah menyelesaikan post-graduate mereka.
Memasuki karakteristik bisnis, lebih dari 60% wanita pebisnis tercatat telah beroperasi 6 tahun atau lebih. Satu hal yang cukup mengagetkan, hampir 40% dengan kateogri pendapatan bisnis terbilang tinggi (lebih dari US$6 juta) memulai bisnis mereka pada saat mereka berumur antara 20 hingga 29 tahun. Banyak responden yang mengatakan bahwa mereka ingin telah memulai usaha lebih awal dalam karir mereka.
Ketika ditanya tentang tujuan utama memulai bisnis, sementara 83% responden dari kelas bisnis paling kecil memiliki tujuan untuk mendapatkan pendapatan yang cukup untuk menyediakan kehidupan yang nyaman, hanya 40% dari kelas bisnis pendapatan terbesar memilih hal serupa. Kelas bisnis dengan pendapatan besar ini juga menginginkan membangun bisnis dan menjualnya untuk mencukupi uang untuk pensiun dan mendirikan sebuah bisnis untuk terus berlanjut ke generasi masa depan.
Studi kewirausahaan sering mencoba mengidentifikasi karakteristik yang berbeda antara wirausahawan dan pengamatan mereka dalam perusahaan. Sering dikutip bahwa wirausaha lebih toleran terhadap risiko, intuitive, optimistis dan percaya diri sebagai pajangan karakteristik. Sering diasumsikan bahwa wanita lebih menolak risiko ketimbang pria. Meskipun survei ini tidak melibatkan pria sebagai responden, namun hasilnya mengindikasikan bahwa wanita pebisnis adalah pengambil risiko. Salah satunya, ketika merespon pertanyaan seberapa banyak risiko telah diambil untuk memulai dan memperluas bisnis, dua respon teratas memberikan jawaban ‘menggunakan sampai dengan 95% simpanan pribadi dan menggunakan rumah sebagai jaminannya.
Wanita pebisnis juga cenderung menyukai informasi faktual melebihi inutisi ketika berhadapan dengan pengembilan keputusan penting dalam bisnis. 39% dari responden bersandar pada informasi berdasarkan fakta pada level yang sama, sedangkan 21% bersandar pada intuisi. Begitu bisnis bertambah besar, intuisi memainkan sebuah peraturan lebih besar dalam membuat keputusan.
Hampir 85% responden sangat setuju dengan pernyataan bahwa wanita pebisnis percaya diri dengan kemampuan mereka untuk sukses. Sementara untuk pernyataan bahwa mereka adalah sangat optimistik, terdapat 80% yang sangat setuju dengan pernyataan tersebut. 54% mengharapkan bahwa bisnis mereka akan tumbuh lebih dari 10% pada satu tahun mendatang.
Selanjutnya menjawab pertanyaan faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan. Tiga alasan teratas untuk pertumbuhan pendapatan yang positif untuk semua responden adalah strategi pasar yang baru, strategi aliansi dan meningkatkan produk/layanan. Lebih dari 44% responden dengan bisnis lebih dari US$1 juta menamakan sebuah peningkatan penjualan sebagai faktor paling penting yang memimpin pertumbuhan pendapatan yang positif. Pelayanan pelanggan yang lebih baik juga dirangking tinggi oleh semua responden. (SH)Oct 29, 2007
Labels: Entrepreneurship
Maslow & Branding: Wrap-Up
In previous posts I've outlined 8 basic human needs in Maslow's Hierarchy and how they relate to branding: Security, Connection, Esteem, Control, Aesthetics, Cognitive, Self-Actualization and Transcendence. But as Tomas commented, "such a sequential hierarchy of needs doesn't usually happen in our post-scarcity society. Rather, we should see "human needs as an ecosystem where all needs co-exist together for the vast majority of us once our basic subsistence needs are met." Exactly right... and that's the topic of this post.
As you can see from this diagram, I've changed the pyramid to a circle (I've also rephrased a few of the names to be more reader-friendly). In the center of this example is "Web 2.0", which refers to blogs, forums, wikis, social networking, etc. You can see at a glance what's driving the massive growth of web 2.0 -- almost every core human need is satisfied through these technologies. Blogs, MySpace, epinions.com and Slashdot are all places where different types of people can converge to get their needs met. Whereas web 1.0 only offered a source of learning via one-way communication, Web 2.0 offers entire ecosystems for people to learn, share, grow, achieve, connect, and promote a cause.
I've titled the chart "Employee/Customer Engagement" for you to think about how your brand activates core needs, both internally and externally. Let's take a look at Starbucks as an example. Starbucks environment activates Belonging and Aesthetics. Ordering a half-caf blended vente latte satisfies the need for Control (I get my coffee exactly how I want it), and Ego/Esteem (pride of being an "insider" and knowing the terminology). Ego/Esteem is also stimulated by friendly employees who remember your name and exactly how you like your coffee. Starbucks is a strong brand because they meet numerous core needs simultaneously. I'd be interested to hear from John Moore or Paul Williams on how this model works internally at Starbucks.
From an employee engagement perspective, you might think about how you can enable employees to learn, grow, achieve, or contribute to a cause of their choice. How can you give them more control over their work environment, or their career path? How can you use Web 2.0 technologies to create an ecosystem for learning, collaborating and recognition?
Everyone talks about change... but basic human needs don't change. By aligning your brand with one primary need -- Apple with Aesthetics, or Starbucks with Belonging -- then that need serves as your anchor and compass to guide business decisions over time. Then establish links with secondary needs to deepen and enrich the brand experience.
Taken from : Brand Mantra (Jenifer)
Labels: Brand Mantra




